Prihatin Ulama Dihina dan Dicaci, NU Sumsel Deklarasikan Antihoax

0
22 views

Muara Enim, Sumsel Merdeka – Prihatin karena para kyai-nya kerap dihina dan dicaci maki melalui media sosial, Nahdlatul Ulama (NU) Sumsel menandatangani deklarasi antihoax. Deklarasi tersebut berisi lima poin sikap NU terhadap berita bohong dan palsu yang kerap tersebar luas.

“Kita prihatin kyai dan NU dicaci maki, disebut yang macam-macam, tidak bela Islam dan lain sebagainya. NU seperti terkena ‘awu anget’ yang tersebar ke mana-mana,” kata Kiyai Nur Salim Habibi, S.Pd.I selaku Katib Syuriyah PWNU Sumsel, di Pondok Pesantren Al Fatah desa Putak Kec. Gelumbang Kab. Muara Enim, Sabtu (16/02/2019)

Dikatakannya, informasi dalam bentuk gunjingan dan cacian itu tersebar melalui media sosial dan situs internet. Bahkan disebarkan oleh kader NU sendiri kepada kader yang lain. “Yang seperti itu menjadi fitnah dan memecah persaudaraan. Makanya harus disikapi dan dilawan oleh NU,” ujarnya.

Sementara itu, Kiyai M. Qusyairi Abror, S. IF selaku Katib Syuriyah PWNU Sumsel, Pimpinan Ponpes Syaafatut Thulab Jl. Patra Tani Ds. Bakung Kab. Ogan Ilir sekaligus panitia pelaksana kegiatan silaturahmi pengurus Rais Syuriyah PW / PC NU se – Sumsel dan Ulama, Kiyai Ponpes Se – Sumsel dengan Ketua Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar, di Pondok Pesantren Al Fatah desa Putak Kec. Gelumbang Kab. Muara Enim mengungkapkan, bahwa berita hoax hanya bisa diminimalisir, tampa bisa dihabiskan. Kecuali dengan kebijakan pemerintah seperti yang dilakukan oleh beberapa negara lain. “Hoax sudah sangat membahayakan untuk persatuan bangsa,” tegasnya.

Dirinya juga menyebutkan, bahwa saat ini banyak situs yang dibuat oleh negara lain yang menyerang sejumlah pihak. Hasan mencontohkan, Nugarislurus.com yang dibuat oleh negara tetangga dengan segala motivasinya.

KH Miftahul Akhyar, Wakil Rais Aam PB NU mengungkapkan, berita hoax terjadi karena tidak tabbayun. Berita yang belum tentu kebenarannya tersebut disebarkan tanpa klarifikasi kepada yang bersangkutan. Kebiasaan tabayun sudah mulai ditinggalkan.

“Memang di NU itu ada pusaka yang selama ini kita sendiri banyak meninggalkan, namanya tabayun. Kalau tabayun dilakukan, berita hoax tidak akan terjadi. Itu yang merusak,” tegasnya.

Isi deklarasi tersebut berisi lima poin, yakni
1. Telah marak terjadi pemberitaan negatif, saling mengejek, saling memfitnah dan menyebarkan berita bohong,
2. Bahwa ancaman informasi dari dunia digital telah nyata, dan nusantara sedang mengalami darurat informasi,
3. Nahdlatul Ulama akan membangun sinergi dalam mewujudkan informasi sebagai media pencerah,
4. Ketahanan Informasi Nahdlatul Ulama harus diwujudkan ke semua sasaran dengan mengedepankan persatuan dan kesatuan serta menjaga marwah ulama,
5. Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan bertekad mewujudkan dan menciptakan ketahanan informasi sebagai bentuk pengabdian pada bangsa dan negara.
Turut menandatangangi delarasi tersebut di antaranya KH Miftahul Akhyar (Wakil Rais Aam PB NU), Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Harian Tandfidziah PBNU Bpk. SULTONUL HUDA, M.Si. Ketua Pengurus Harian Tandfidziah PWNU Sumsel Bpk. HERI CANDRA, S.Kom, KH. SYUKRON MAKMUN (selaku Rais Syuriyah PC NU OKU Timur dan pengurus pondok pesantren Darussalam desa Sumedang Sari Kab. OKUT) dan seluruh Ketua PCNU Se- Sumsel.
, KH M Maftuh Said (Rais Aam PC NU), Umar Usman (Ketua PCNU), Bupati Malang, Kapolres Malang dan Rektor Unisma (Rill)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here